LPAM bersama petani Nias belajar bersama bagaimana menanam dan mengolah tanaman-tanaman muda (palawija) sehingga Pulau Nias bisa memproduksi sendiri sayur-sayuran dan buah-buahan untuk konsumsi Pulau Nias dan tidak lagi terus menerus bergantung dari luar.
Sore itu cuaca begitu menyejukkan. Di sebuah desa di sebelah Barat Nias, kami bertemu dengan Tuan Rumah. Sorotan matanya menampakkan kejujuran dan idealisme. Nada katanya bersahaja, bermakna dan membumi. Ada kebanggaan di dalam dirinya dan masih sangat kental keinginan hatinya untuk berbuat lebih kepada masyarakatnya.
Tamat dari Fakultas Pertanian Universitas Methodis Medan pada tahun 1992, Tuan Rumah, Fa’ahakhö Dödo Gulö memilih kembali pulang kampung. Bukan pilihan yang gampang, karena tentu “frame berpikir” orang pada umumnya adalah setelah selesai ... Baca selengkapnya »
Coklat semestinya selalu manis tetapi tidak untuk petani coklat nias. Sepanjang pengamatan sederahana coklat tumbuh dimana—mana di pulau ini. Dan itu dimiliki oleh semua oleh petani.Hanya saja ada yang diurus, dirawat dan menghasilkan sementara yang lainnya dibiarkan tumbuh begitu saja bersama—sama dengan rumput yang bersaing sehat dengannya. Tentu saja hasilnya yang terakhir ini bisa ditebak, tak menghasilkan apa—apa buat petani. Ada beberapa faktor yang menyebabkan ini. Terperosoknya harga coklat yang hanya berkisar Rp 8.500/kg membuat petani mulai enggan ... Baca selengkapnya »
Tanpa ingin berlagak akademisi, yang jelasnya kemiskinan di Nias seperti di daerah lain adalah kemiskinan struktural. Dalam perspektif hubungan antara rakyat dan negara, kemiskinan tersebut disebabkan oleh negara dalam hal ini utamanya adalah pemerintah.
Ketidakmampuan dan ketidakpedulian pemerintah mengangkat masyarakat dari kemiskinan, itulah yang menjadi faktor utama. Bahkan barangkali tidak begitu salah kalaulah dikatakan negaralah yang membuat petani miskin. Betapa tidak, ada banyak projek yang sebenarnya untuk meningkatkan kehidupan petani justru dikorupsi oleh aparat—aparat pemerintah. Alhasil uangnya habis, petani tidak kemana—mana ... Baca selengkapnya »
Sejak bulan Agustus yang lalu tahun 2005, sebagai bagian dari pekerjaan kemanusiaan paska bencana tsunami dan gempa di Pulau Nias, LPAM memulai membangun 5 unit sekolah yang roboh akibat dari bencana gempa tersebut. Ke 5 unit gedung sekolah ini berlokasi di 5 kecamatan tersebar dari Utara ke Selatan Pulau Nias, mulai dari SDN 071169 Ombölata Kecamatan Alasa, SDN 07309 Orahili Huruna Kecamatan Lölöwau, SDN 0711094 Tuhemberua Kecamatan Lölömatua, SDN 075100 Hilidöhöna Kecamatan Lahusa dan SDN 074069 Orahili Fau Kecamatan Teluk ... Baca selengkapnya »
Ada fakta yang tidak terbantahkan ketika gempa menggoncang Nias. Hampir semua bangunan—bangunan publik rusak parah dan roboh. Salah satunya adalah sekolah—sekolah. Pelajaran yang menarik dari sini adalah pertama bahwa gempa tanggal 28 Maret 2005 itu sangat dahsyat dan yang kedua adalah fakta bahwa betapa rapuhnya bangunan—bangunan publik itu termasuk di dalamnya adalah gedung—gedung sekolah.Tentu tidak lupa dari ingatan kita bahwa sebelum gempa merobohkan sekolah-sekolah itu, kita juga semua tahu bahwa gedung-gedung itu dibangun atas dasar fondasi korupsi. Yah, benar sekali ... Baca selengkapnya »
Salah satu rumah type 42 yang direkonstruksi LPAM - Nias dengan menggunakan Batu Bata Gajah ( BBG ) atau Interlocking compressed Earth Block ( ICEB ), rumah dibangun dengan susunan blok yang saling mengikat satu dengan lainnya.
Lokasi : Desa Hiliamaetaniha, Teluk Dalam, Nias selatan.
LPAM - Nias memiliki mesin yang digunakan dalam produksi blok - blok BBG, Bahan BBG terdiri dari tanah, pasir, dan semen lalu di press dengan mesin tersebut, dan produksi dilakukan di gudang desa Hilizihono, Teluk Dalam, Nias Selatan serta melibatkan masyarakat setempat untuk ikut andil dalam produksi tersebut.
Rumah ini sendiri dibangun melalui Training yang melibatkan
Staff LPAM - Nias, Tukang yang bekerjasama dengan LPAM, serta beberapa orang utusan lembaga yang berasal dari Aceh, Yogyakarta, dan Bukit Tinggi Sumatera Barat yang juga menggunakan teknologi ini dalam melakukan konstruksi.
Trainer dalam pelatihan ini sendiri adalah Prof.Geoffrey Wheller dari CVBT
(Central Volcanology Building Technology ) Thailand.