Program Advocacy merupakan program rutin yang dilakukan LPAM. Dalam konteks pasca gempa dan pemberdayaan masyarakat LPAM berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan kegiatan yang bertujuan sebagai pembelajaran di masyarakat. Beberapa aktifitas yang akan dilakukan dimasyarakat berupa kampanye melalui poster, bulletin, web dan media massa.
Keterlibatan masyarakat dalam proses program ini merupakan suatu pembelajaran untuk lebih mengkritisi keadaan yang sedang bergejolak. Artinya ada pemahaman di masyarakat untuk dapat lebih respon melihat situasi yang ada. Dan selalu bekerjasama dalam penyelesaiaan persoalan yang ada. Melalui pertemuan-pertemuan yang akan dilakukan LPAM dimasyarakat dengan melibatkan pemerintah, NGO asing dan local serta masyarakat, diharapkan kerjasama yang dibangun adalah media pembelajaran yang baik dimasyarakat.
Berangkat dari masalah dan kebutuhan masyarakat Nias, maka dipandang
sangat penting untuk ditelusuri apa yang menjadi akar persoalan, melalui
pengumpulan data dari berbagai sumber, dan mengenal mekanisme kerja
BRR yang diteruskan pembentukan aliansi Organisasi peduli baik dari
Organisasi PERS atau LSM Lokal dan juga diskusi kampung yang bermuara
pembentukan kelompok – kelompok atau forum kaomunitas masyaraka
agar lebih memiliki dedikasi yang tinggi dalam memperjuangkan hak –
hak dan kewajibannya sebagai rakyat pemegang kedaulatan sejati..
Selain itu, pengembangan pola pikir dan kapasitas jaringan sosial guna
melakukan berbagai preser mulai dari proses sampai pada tingkat implementasi
,merupakan satu issu penting yang membutuhkan penelaan bersama, berhubung
segudang persoalan yang telah menjadi kenyataan Yaitu : Warga yang menjadi
korban bencana alam banyak yang tidak tahu apa yang harus dilakukan,
bagaimana pemenuhan hak haknya, dan belum ada kepastian sikap pemerintah
/ negara untuk memenuhi hak hak warganya yang terkena bencana. Program
bantuan Pemerintah sebagai wujud pemenuhan hak hak sipil yang terkena
bencana tidak sampai ke warga secara cepat, tepat dan bermanfaat. Maka,
perlu adanya peningkatan kemampuan dalam mengantisipasi atau menangani
berbagai hal yang berkaitan dengan penanganan baik saat terjadi bencana
maupun recovery. Person yang mampu membela hak-hak warga bersama masyarakat
serta mampu melakukan pengawasan terhadap bantuan sangat dibutuhkan.
.
Tujuan
1. Menjadi fasilitator / jembatan untuk berjuang bersama – sama
masyarakat dalam menegakan Supremasi Hukum tanpa diskriminasi.
2. Mengakses informasi riil kepada masyarakat sebagai fecbek pada masyarakat
untuk memperjuangkan hak – hak dan kewajibannya yang sesungguhnya.
3. Membangkitkan kesadaran masyarakat agar tetap terpeliharanya nilai
budaya senasib dan sepenanggungan, untuk berjuang bersama – sama
melakukan berbagai bentuk perlawanan pada wujud penindasan.
4. Melalui Media Kampanye dapat membangkitkan kepedulian dan kesadaran
masyarakat umum terhadap kelanjutan isu - isu, dan juga melalui penyebaran
informasi – informasi dapat mempengaruhi kebijakan serta merefleksikan
pendapat umum.
5. Terwujudnya kedaulatan sejati bagi masyarakat.
Untitled Document
Video Konstruksi rumah menggunakan Batu Bata Gajah (Interlocking Compressed Earth Blocks)
Salah satu rumah type 42 yang direkonstruksi LPAM - Nias dengan menggunakan Batu Bata Gajah ( BBG ) atau Interlocking compressed Earth Block ( ICEB ), rumah dibangun dengan susunan blok yang saling mengikat satu dengan lainnya.
Lokasi : Desa Hiliamaetaniha, Teluk Dalam, Nias selatan.
LPAM - Nias memiliki mesin yang digunakan dalam produksi blok - blok BBG, Bahan BBG terdiri dari tanah, pasir, dan semen lalu di press dengan mesin tersebut, dan produksi dilakukan di gudang desa Hilizihono, Teluk Dalam, Nias Selatan serta melibatkan masyarakat setempat untuk ikut andil dalam produksi tersebut.
Rumah ini sendiri dibangun melalui Training yang melibatkan
Staff LPAM - Nias, Tukang yang bekerjasama dengan LPAM, serta beberapa orang utusan lembaga yang berasal dari Aceh, Yogyakarta, dan Bukit Tinggi Sumatera Barat yang juga menggunakan teknologi ini dalam melakukan konstruksi.
Trainer dalam pelatihan ini sendiri adalah Prof.Geoffrey Wheller dari CVBT
(Central Volcanology Building Technology ) Thailand.