Program LPAM
   Rekonstruksi
   Pendidikan
   Livelihood
   Capacity Building
   Advokasi & Kampanye

 TENTANG NIAS
   Sejarah Nias
   Budaya Nias
   Mencapai Nias

 test
   test2

 Rubrik
nias
umum
kampanye
Kegiatan LPAM-Nias

 



   


Nias memiliki budaya yang sangat menarik. Lompat batu merupakan salah satu contoh budaya yang paling terkenal dan unik, dimana seorang pria melompat diatas sebuah tumpukan batu dengan ketinggian lebih dari 2 meter. Lompatan itu untuk menunjukkan kedewasaan seorang pria, para pengunjung dapat menyaksikan lompat batu tersebut didesa Bawomatolua, Hilisimaetano atau didesa sekitarnya.

Lompat batu dilakukan untuk menunjukkan kedewasaan seorang pria, walaupun hal ini sangat berbahaya tetapi menjadi sebuah olahraga yang menyenangkan.

Tarian perang tradisional Nias juga sangat menarik tetapi jangan takut karena tarian ini bukan untuk menunjukkan perang yang sebenarnya. Para penari mengenakan pakaian tradiional, pakaian yang terbuat dari sabut ijuk dan serat kulit kayu dan kepala mereka dihiasi dengan bulu burung, dan ditangan mereka membawa tombak dan perisai.

Nias memiliki rumah adat yang sangat menarik. Rumah tradisional yang tertua dan terluas yang dinamakan Omo Sebua, yang merupakan rumah asli dan suku yang suka perang terdapat di dea Bawomatulou atau “Sunhill”. Rumah ini tingginya mencapai 22 m dan beberapa tiangnya lebih tebal dari 1 m. Rumah ini masih dimiliki dan ditempati oleh keluarga kerajaan.

Arsitektur dari bangunan ini bagus sekali, mempunyai ukuran dinding yang menarik untuk menghormati upacara pesta yang terkenal dan hiasan perabotnya, seperti meja dan kursi beratnya masing-masing mencapai 18 tons

Nias Utara

Nias Selatan

Dikebudayaan Nias tarian tradisional merupakan hal penting dan masih ada sampai sekarang, contohnya :


1. Maluaya (tari perang), terdapat diseluruh daerah Nias. Di bagian utara namanya Baluse. Tarian tersebut ditarikan minimal 12 orang pria, dan bila lebih maka akan lebih baik. Pada umumnya lebih 100 orang, gerakannya sangat kuat. Maluaya in PP Batu berbeda dengan daerah Nias lainnya, di PP Batu para wanita juga turut menari. Para wanita menari dengan langkah kecil yang lemah gemulai. Tarian Maluaya ditarikan pada upacara pernikahan untuk masyarakat kelas atas, penguburan dan pesta untuk menyambut pendatang baru.

2. Maena adalah sebuah tarian khas dari Nias Utara yang ditarikan oleh wanita dan pria, biasanya ditarikan pada uapacara pernikahan.

3. Forgaile adalah sebuah tarian khas Nias Selatan yang ditarikan oleh wanita untuk mengekspresikan rasa hormat dan untuk menyambut tamu khusus dan memberikan mereka sirih tradisional. Di bagian Utara dinamakan Mogaele dan dapat ditarikan oleh wanita dan pria.

4. Foere adalah tarian yang menampilkan lebih dari 12 penari wanita, diiringi dengan seorang penyanyi. Tarian ini merupakan bentuk dari penyembahan untuk berakhirnya kematian dan bencana.

5. Fanarimoyo (tarian perang) adalah sebuah tarian yang ditarikan di Nias Selatan dan Utara oleh 20 penari wanita, kadang-kadang didalam lingkaran ditarikan oleh penari pria. Dibagian utara tarian ini dinamakan Moyo. Tarian ini dimulai dengan gerakan seperti elang terbang dan ditampilkan untuk acara hiburan. Tarian ini menggambarkan seorang gadis yang harus menikahi pria yang tidak dicintainya. Dia berdoa supaya menjadi seekor elang yang dapat terbang.

6. Foluaufaulu adalah upacara yang manandakan kedudukan status seseorang pada zaman megalithikum. Dalam upacara ini ditarikan kedua tarian Maluaya dan Foere.

7. Famadaya Hasijimate (Siulu) adalah sebuah upacara pemakaman bagi keturunan raja di Nias Selatan. Di dalam upacara ini, tarian Maluaya ditarikan dibawah pimpinan desa Shaman, peti mati diukir dari batang kayu pohon dan ukiran kepalanya dihiasi dengan sebuah batang kayu untuk memperlihatkan dasarnya setelah itu zenajah tersebut dikuburkan.

8. Mandau Lumelume adalah sebuah tarian dengan tujuan untuk memanggil roh. Tarian ini hanya ada di PP Batu.

9. Manaho adalah tarian yang ditarikan pada acra pernikahan dan untuk menyambut tamu penting. Penari wanita berjejer didepan dan penari pria yang berada disamping melakukan gerakan yang mirip dengan tarian perang. Karena tarian ini sangat mahal biasanya masyarakat kelas bawah menarikan tarian Boli-boli. Tarian ini ditarikan didalam gedung, dengan tujuan agar tamu tidak erasa bosan. Tarian ini hanya ada di PP Batu.

10. Tari Tuwa adalah tarian yang menampilkan seorang penari wanita/pria diatas sebuah meja batu, dengan tujuan untuk menghormati para pemimpin.

11. Fadabu adalah sebuah upacra untuk mempertunjukkan kekebalan seseorang. Sebuah pertunjukkan yang menikam dirinya sendiri dengan benda tajam. Didalam bahasa Indonesia namanya Dabus dan banyak dijumpai di Indonesia.

12. Silat Nias adalah sebuah bentuk seni perang tradisional yang lebih menekankan kepada sisi seninya daripada sisi perangnya. Masyarakat Aceh dan Pesisir memperkenalkn tarian ini ke Nias. Ada banyak jenis nama-nama tarian ini : Starla, Aleale, Sangorofafa, famosioshi, dll.

13. Fatabo adalah sebuah peristiwa unik di PP Batu. Fatabo bukan sebuah tarian hanya sebuah cara untuk menangkap ikan diair yang dangkal. Dua baris orang yang masing-masing dibawah pimpinan, berjalan meninggalkan air tersebut dan membawa sebuah kotak. Pemimpin tersebut meminta agar dibuat suara keras dan memukul air tersebut dengan tongkat, kemudian mereka berjalan diatas tanah, menyembunyikan kotak tersebut dan menyimpan ikan tersebut diantara mereka dan pantai. Di pantai lain barisan pria bergerak melemparkan jaringan untuk menangkap ikan. Keseluruhan peristiwa ini adalah sebuah nilai seni yang mempunyai irama musik dan keributan. Fatabo sangat populer di pulau Sigata dan desa Wawa di tanah Masa. Sekarang sangat jarang dijumpai di Nias.

Beberapa alat musik yang digunakan adalah :

Dolidoli adalah sejenis gamelan yang terbuat dari kayu atau bambu. Garamba adalah gong besar dan sangat penting dalam musik tradisional Nias. Faritia adalah sebuah alat pemukul. Fondrahi adalah sebuah drum kecil yang terbuka disatu sisinya, bentuk yang lebih besar dinamakan Gondra.

 
   


 
Untitled Document

Video Konstruksi rumah menggunakan
Batu Bata Gajah
(Interlocking Compressed Earth Blocks)

ICEB

Salah satu rumah type 42 yang direkonstruksi LPAM - Nias dengan menggunakan Batu Bata Gajah ( BBG ) atau Interlocking compressed Earth Block ( ICEB ), rumah dibangun dengan susunan blok yang saling mengikat satu dengan lainnya.

Lokasi : Desa Hiliamaetaniha, Teluk Dalam, Nias selatan.

LPAM - Nias memiliki mesin yang digunakan dalam produksi blok - blok BBG, Bahan BBG terdiri dari tanah, pasir, dan semen lalu di press dengan mesin tersebut, dan produksi dilakukan di gudang desa Hilizihono, Teluk Dalam, Nias Selatan serta melibatkan masyarakat setempat untuk ikut andil dalam produksi tersebut.
Rumah ini sendiri dibangun melalui Training yang melibatkan Staff LPAM - Nias, Tukang yang bekerjasama dengan LPAM, serta beberapa orang utusan lembaga yang berasal dari Aceh, Yogyakarta, dan Bukit Tinggi Sumatera Barat yang juga menggunakan teknologi ini dalam melakukan konstruksi.
Trainer dalam pelatihan ini sendiri adalah Prof.Geoffrey Wheller dari CVBT (Central Volcanology Building Technology ) Thailand.


 
Menghargai kearifan lokal & pelibatan masyarakat adalah fondasi dalam program kemanusiaan
Pertanian Hortikultura
------------------
Menjadi Petani bukan berarti menjadi miskin

edu

 Top Download

 Artikel Terakhir


cari di  
 

  Visitors : 4792 visitors   Hits : 12435 hits   Month : 462 users   Today : 30 users   Online : 2 users
LPAM-Nias © 2007
lpamnias@gmail.com
Jl. Sisingamangaraja No.4, Tandrawana - Gunungsitoli - Nias
Kode Pos 22815 Telp / Fax : 0639 - 21203