Secara umum masyarakat Nias dianggap berasal dari
sekelompok keturunan suku birma dan assam, tapi berbeda dengan asal usul
orang batak. Ada banyak teori tentang asal usul suku nias dan belum ada
yang dapat memastikan karna mereka aslinya berasal dari lebih dari satu
grup etnik.
Perpaduan itu akan menjadi sangat bagus karena gabungan
dari beberapa grup etnik. Ferrad (keturunan perancis) melaporkan bahwa
seorang pelancong dari Arab yang bernama sulaiman menyebutkan banyak perbedaan
suku-suku di tahun 851 SM.
Penggalian di gua Togi Ndrawa (menurut penelitian yang
baru dilakukan di Heilberg, Jerman), atau gua Pelita menunjukkan bahwa
masyarakat sudah tinggal disana sejak 7000 tahun yang lalu. Banyak tulisan
yang juga mendukung teori tersebut. Contohnya : banyak masyarakat tinggal
di pohon-pohon yang dipanggil Bela dan masyarakat tinggal ditebing yang
dipanggil Nadaoya, menurut kepercayaan masyarakat Nias 2 suku diatas tersebut
adalah sejenis roh-roh, roh terakhir yang jahat.
Di daerah Hinako dan dipulau-pulau Wesi selatan telah
ada selama 17-18 generasi yang lalu. Mereka disebut suku Maru yaitu suku
asli orang bugis di nias. Para missionaris menyatakan bahwa bahasa mereka
telah hilang kira-kira 100 tahun yang lalu. Orang aceh datang ke nias
kira-kira 13-14 generasi yang lalu.
Mereka selalu berhubungan satu sama lain sebagai polem di nias. Ketika orang aceh pertama kali masuk ke desa Foa dengan menyebrangi
sungai, masyarakat nias memotong pohon besar dan menutup jalan keluar.
Salah satu tujuan masyarakat nias adalah untuk mempelajari tenaga-tenaga
gaib dan cara berperang dari orang aceh. Orang aceh menguasai daerah itu.
Ada 3 bentuk cara berperang di nias, yaitu : simataha dari aceh, starla
dari sumbar, dan trapedo yang merupakan gabungan dari keduanya.
Bangsa Belanda melakukan ekspedisi pertama kalinya di
nias tahun 1855, kemudian pada tahun 1863. nias telah dikuasai Belanda
tahun 1914.
Perdagangan Budak
Nias menjadi sumber penjualan budak-budak, sehingga masyarakat
Nias disebut “Laku Niha” yang artinya manusia yang diminta.
Banyak para pedagang ke Gunungsitoli yang terdiri dari 3 suku asli yang
berasal dari masyarakat menengah.
Orang Aceh, Sumbar, China dan Eropa membawa budak-budak
dari Nias. Didaerah lain banyak budak-budak yang diambil dari suatu daerah,
khususnya dibagian utara. Desa-desa di selatan lebih melindungi masyarakatnya
dan lebih susah untuk dijangkau. Pemerintah kolonial Belanda mendukung
perdagangan budak itu.
Pemerintah Belanda menuliskan disebuah buku bahwa penduduk
Nias utara telah menjadi sedikit akibat dari perdagangan budak. Budak-budak
dari Nias dikirim ke banyak tempat, contohnya mereka dijual ke padang
(sumbar) karena untuk melunasi hutang-hutang. Mereka harus bekerja keras
untuk beberapa tahun, yang biasanya sebagai pelayan sekarang, ada dibeberapa
desa yang masyarakatnya berasal dari Nias di Sumbar. Budak-budak Nias
juga dikirim ke Penang, Malaysia. Para Missionaris Khatolik yang tiba
di Nias melaporkan bahwa orang-orang China membawa budak-budak Nias dengan
kapal pada tahun 1820. budak-budak ini menjadi kristen karena diberi kebebasan
di Penang. Lyman, seorang missionaris dari Amerika menyatakan bahwa sebuah
kapal Perancis membawa sebanyak 500 orang budak-budak di tahun 1832.
|